Pesawatku. Ya, inilah kata pertamaku. Satu kata yg bisa membuatku menggambarkan akan mereka. Aku adalah pesawatnya. Aku mempunyai kepala dari pesawatku. Beliau adalah almarhum dari ayahku. Ya, ayah yg sangat kusayang. Ayah yg pernah mengajariku untuk bertahan hidup. Mencuci bus bersama demi mendapatkan uang sepuluh ribu untuk satu bus di malam setelah ba'da maghrib. Sepuluh ribu yang kami bagi berdua untuk membeli 2 bungkus nasi rames dan 1 bungkuus rokok dan minum dengan air kendi di rumah. Aku hidup dengan kepalaku, dan aku merasakan betapa aku membutuhkannya saat usiaku mulai 10 tahun. ya, tepatnya saat aku kelas 4 SD. Saat dimana aku menjadi anak yg freak. Anak yg dipisahkan keluarganya, dimana ayah dan ibuku divorce.
Aku mulai memahami hidup itu keras. Semenjak masuk di SMP favoritku, dan akupun masuk di kelas 2 SMP, aku ditemui oleh seseorang. Dia memanggilku di jendela, dan memberikan uang 3 ribu rupiah, katanya ini uang dari ibuku. What? Siapa sih kamu? Oh Tuhan, ternyata dia adalah salah satu sayapku yg hilang selama 3 tahun.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar