Selasa, 22 November 2011

Petualangan FIM 11 episode 1


Alunan kaki mengantarku untuk menjelajah ke sebuah Forum Pemuda terbesar di negeri ini, 13 jam perjalanan dengan kereta api, mengantarkan semangatku sampai di Wiladatika cibubur pada Jum’at 21 Oktober 2011. Apa mau dikata, akulah peserta pertama yang sampai di Wiladatika saat itu pada pukul 02.00 pagi. Aku rebahkan tubuhku di sebuah masjid di sebuah taman yang indah untuk rehat sejenak, dan kulangkahkan kakiku untuk mengambil air wudhu untuk shalat malam. Beberapa lama kemudian, tibalah subuh. Hatiku senang karena sang surya akan menemani semangatku dari kesunyian gelap. Sampai sholat jum’at akan tiba, panitiapun membawaku ke sebuah tempat peristirahatan sementara yang tak jauh dari masjid. Setelah menunaikan kewajiban, peserta-peserta pun berdatangan dari semua penjuru sabang sampai merauke. Sesampainya setelah petang kamipun di pindah ke asrama putra, sekitar 1km, dengan berjalan kaki bersama dan menenteng tas dan koper yang berat, kami saling berkenalan dan saling sapa.
Sesampainya di asrama yang indah dan luas, kami pun dalam 1 ruang bersama sekitar 60 putra. Waktunya pemilihan ketua asrama pun tiba, semua temen2 memilih aku sebagai ketuanya. Pertanyaanku, apakah aku pantas, mahasiswa dari universitas swasta yang tidak didukung wakil rector nya dan dari keluarga tidak mampu memimpin mahasiswa-mahasiswa terbaik se-Indonesia? Akupun memberanikan diri, karena ini amanah menuju ke koordinator acara FIM 11. Disana aku mempunyai tanggung jawab mengkoordinasikan teman-teman putera dimanapun dan kapan pun. Hari pertama pun tiba, pada Sabtu, 22, kami memulainya dengan sholat subuh dan dilanjutkan dengan berolahraga bersama di taman Wiladatika.
 Mengantri mandi dan berenang adalah keseharian kami sebelum masuk di sesi kelas. Awal indah kami mulai dengan breakfast bersama dan masih saling berkenalan dan registrasi. Disana kami mendapatkan sebuah kokard dan satu kartu sahabat kunang-kunang yang harus kami cari. Terdengan dentuman lagu di dalam ruangan,  akupun berlari masuk ke ruangan, dan sangat-sangat hebat, para panitia dengan senyum cerah dan tepukan tangan, menyambut 136 mahasiswa terbaik calon pemimpin bangsa kedepan. Kami pun duduk di kursi yang telah disediakan. Aku duduk satu deret dengan Pungki UGM, Dio Widyatama, Angga UNTAN, dan  Iskandar UNSYIAH, Kang umay STKIP SUBANG, Priyo UGM. Pembicara pertama kami pun tiba, yaitu  Yudi Latief dan  Buchori Nasution yang mengisi materi tentang “Youth Revival : Memaknai Sumpah Pemuda”.
Sesi pertama yang memuaskan selama 2 jam. Selanjutnya aku selalu bertanya, di sesi kedua ini, siapa ya yang akan menjadi pembicaranya? Detuk jantung pun terhentak ketika mantan Ketua MPR, Bapak Amien Rais memasuki ruangan, sorak sorai dan tepuk tanganpun kami lantunkan mengiringi detakan suara sepatu bapak Amien menuju ke depan mimbar. Dengan matteri “Selamatkan Indonesia Kita” , pak Amien pun berpesan meminta pada generasi penerus yaitu pemuda agar memberikan perubahan dengan sesuatu yang konkret. Karena kalauu tidak, tanah air ini tidak lama lagi akan musnah. 1,5 jam berlalu dan pak Amien bersegera meninggalkan ruangan, dan kamipun mengantri coffee break yang disediakan panitia. Setelah 15 menit kami menyegarkan badan dan mencari sahabat kunang-kunang yang tak ujung ketemu, kamipun masuk ke ruangan lagi. Lagi, lagi, lagi, dan lagi.
Pembicara di sesi yang ketiga ini aadalah sastrawan terhebat, dialah Taufik Ismail. Sastrawan yang terkenal, dan lantunan puisi indah yang pernah kubawakan saat aku duduk di bangku SD dulu. “Ketahanan Budaya = Ketahanan Nasional” , itulah materi yang dibawakan orang tua dengan semangat pemuda itu di depan kami. Beliau juga menceritakan seorang sahabat penanya saat kuliah di UI dulu yang bernama Kasim. Seorang sahabat yang hilang selama 15 tahun saat KKN di Kalimantan, yang ternyata si Kasim mengikhlaskan dirinya untuk mengajar anak-anak dan orang-orang tua di pedalaman, membuatkan sumur dan mengajari cara beternak, menjaga kesehatan dan kebersihan yang baik bagi daerah tersebut. Saat diketemukan, Kasim pun dibawa pulang dan mendapatkan beasiswa penuh dari rector, dia pun melanjutkan kuliahnya. Saat wisudanya, Taufik  Ismail membacakan sebuah puisi yang dipersembahkan untuk sahabatnya itu yang berjudul ‘Kasim”, dengan air mata yang tk tertahankan, seluruh peserta dibuat menangis akan puisi lantunan Taufik Ismail. Setelah membaca puisi, selanjutnya Taufik Ismail pun duduk disebelah Kasim, tak lama kemudian Kasim pun mengucapkan sepatah kat, “Apakah itu penting”. Taufik Ismail pun terhentak mendengar Kasim berucap demikian. Pelajaran yang bisa kita ambil adalah, kita sebagai pemuda harus membuktikan perbuatan dan sikap yang konkret demi bangsa ini, bukan mengeluh dan selalu memprotes akan kebijakan pemerintah apalagi mengeluh. Lalu setelah acara sesi foto-foto dan penyerahan bingkisan kepada Taufik Ismail, pria yang masih mempunyai semangat muda itupun meninggalkan kami. Kami pun bergegas untuk sholat ashar dan coffe break. Lanjut pada sesi ke-4 yaitu “Membangun Kemandirian Bangsa” , yang dibawakan oleh bapak Sri Edi. Saya kurang kenal dengan bapak yang 1 ini, namun dari wajahnya yang sangar dan kekar, membuatku tahhu dia itu hebat. Setelah selesai, kami kembali ke asrama untuk mandi dan makan malam, serta sholat maghrib. Canda tawa dan capek, bercampur jadi satu walaupun seharian hanya mendengarkan materi yang super dahsyat. Setelah siap semua sholat isya’, koordinator acara menghubungiku untuk mengkoordinir kawan-kawan putera untuk menuju ke ruang meeting untuk mendapatkan panduan “field trip”.   
Tak kuduga, ternyata kita akan dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok di Cimanggis dan Meleber, yang tujuanya langsung terjung ke masyarakat, mengamati tentang pengetahuan dan pendalaman masyarakat akan Bangsa, bahasa, tanah air, dan pemuda. Hore, akhirnya aku dipertemukan dengan satu Jong Sunda, ada Thea dari UNHAS, Ecki ITB, VinaUI, Dhio Widyatama, CP UGM, Etha Undip, Bahrul Brawijaya, Iskandar Unsyiah, Nuwi Padjajaran, Angga UNTAN, Hasan ITS, Rike ITB, Uwi IKOPIN, Yason UNCEN, dan aku sendiri dari UMS. Yaah, kita akhirnya dipisahkan menjadi 2 group, perpisahan dengan Jong Maleber, sesaat kami mengiringi dengan tangisan di dada, sambil makan malam dengan satu Jong Sunda, agung, CP, Dhio, Bahrul, Eki, Iskandar, dll. Waktu menunjukkan pukul 22.30, dan saatnya kita bergegas kembali ke asrama yang jaraknya lumayan jauh. Hitung-hitung perjuangan pemuda zaman dahulu, ternyata pejuang dulu hebat. Eh, di tengah jalan, kami dipersuguhkan ada artis yang sedang syuting film “Kuntilanak 2”, Arumi Bachin dkk.
                Masuk pada hari ketiga, Senin, 24 Oktober 2011. Hanya sekitar 60an orang di Wiladatika, kami mulai dengan sholat malam berjamaah pada pukul 3, dilanjutkan dengan sholat subuh dan olahraga pagi, wow, games yang menyenangkan dari kak Ibam. Setelah sarapan bersama dan…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar